Diceritakan ulang dari blog ervakurniawan.wordpress.com yang
sangat indah.
Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah sarno terus mengayuh sepeda
tuanya menyisir jalan perumahan condong catur demi menyambung hidup. Mbah sarno
sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang
lain mungkin berfikir “mau nonton apa saya malam ini?”, mbah sarno cuma bisa
berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”
Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit
baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah sarno, setiap hari adalah hari
kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus
berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin,
tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.
Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang,
diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20
tahunan, terlihat sangat terburu-buru.
Ketika mbah sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus
menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun,
dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
“Wah cepat sekali. Berapa pak?”
“5000 rupiah mas”
Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari
dompetnya. Mbah sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama
sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.
“Wah mas gak ada uang pas ya?”
“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum
dipecah pak”
“Maaf mas, saya nggak punya uang kembalian”
“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu
sebentar pak ke warung depan”
“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya
perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”
“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”
Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak
menguntungkan bagi mbah sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun
belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “ikhlas. Insya allah akan
dapat gantinya.”
Ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan
diri shalat ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia
berdoa.
“Ya allah, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini.
Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakmu.”
Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan
pekerjaannya.
Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang
tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.
“Wah kebetulan kita ketemu disini, pak. Ini bayaran yang
tadi siang pak.”
Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan.
Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.
“Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya
masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil
mas?”
“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima
tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal
pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya allah minggu depan saya
berangkat ke prancis pak. Saya mohon doanya pak”
“Tapi ini terlalu banyak mas”
“Saya bayar sol sepatu cuma rp 5000 pak. Sisanya untuk
membayar kesuksesan saya hari ini dan
keikhlasan bapak hari ini.”
So, menguntungkan bukan untuk berbuat ikhlas?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar