dahulu kala hiduplah
seorang bernama Bahlul. Dalam bahasa arab, bahlul berarti bodoh atau
dungu. Bagaimana mungkin seorang menjadikan bahlul sebagai namanya. Pertanyaan
ini yang menggelitik hati seorang raja.
Dengan penuh rasa
penasaran, sang raja memanggil Si Bahlul untuk ‘ditanyai’. “Mengapa namamu
Bahlul?”
“Memang, saya Bahlul,”
jawab bahlul apa adanya.
“Apakah tidak ada orang
lain yang pantas menyandang nama tersebut?”
“Setahu saya tidak ada
yang pantas dan layak lagi kecuali saya, baginda.”
Terkesan dengan jawaban
polos Bahlul, sang raja memberikan hadiah berupa sebuah tongkat dan sebuah
pesan kepada Bahlul. “Jika suatu saat nanti, kau bertemu dengan orang yang
lebih dungu darimu, maka kau wajib menyerahkan tongkat ini padanya,’ titah sang
raja. Bahlul menganggukkan kepala pertanda setuju.
Lama berpisah dengan
raja, tiba-tiba Bahlul mendengar berita baginda sedang sakit dan diramalkan
akan segera ‘lewat’. Dengan susah payah Bahlul menemui sang raja. Tentu saja
dengan membawa tongkat pemberian yang dibanggakannya.
“Wahai baginda,
bagaimana kabarmu?”
“Aku akan pergi jauh,
Bahlul. Jauh sekali, tak akan kembali,” jawab raja dengan suara berat.
“Pergi jauh? Apakah
baginda sudah menyiapkan bekal?” tanya Bahlul yang tampaknya tak mengerti
isyarat kematian sang
raja.
“Dalam perjalanan yang
satu ini, wahai bahlul, kau tidak bisa membawa bekal,” kata sang raja.
Tiba-tiba bahlul
berdiri mendadak. Diraihnya tongkat yang sejak tadi bersandar. Dengan cepat
tongkat itu diberikan pada sang raja. “Ternyata baginda lebih bodoh dari saya.
Saya bahlul, tapi saya mengerti setiap perjalanan selalu memerlukan bekal.
Apalagi perjalanan jauh yang tak akan kembali!
Imam Ali Zainal Abidin,
cucu Rasulullah SAW berkata, “Ada tiga waktu yang paling mengerikan yang harus
dialami anak Adam : (1) saat ketika ia menyaksikan malaikat maut, (2) saat
ketika ia bangun dari alam kuburnya, dan (3) saat ketika ia berdiri di hadapan
Allah SWT dalam keadaan tidak jelas apakah akan kesurga dan ke neraka.”
Allah SWT menjelaskan
kepada kita dua jenis kematian. Pertama, kematian seorang mukmin yang shaleh :
“Orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan baik, para malaikat
berkata, “Sejahteralah bagi kalian, masuklah ke dalam surga dengan apa yang
sudah kalian amalkan.” (Qs. An-Nahl 16:32). Allah SWT akan menyapanya dengan
mesra, “Hai jiwa yang tentram, kembalilah kepada karunia Tuhanmu dengan penuh
keridhaan dan diridhai. Masuklah dalam kelompok hamba-hamba-Ku, masuklah ke
surga-Ku.” (Qs. Al-Fajr 89 : 27-30).
Kedua, kematian orang
yang durhaka. Simaklah pernyataan Allah, “Bagaimana keadaan mereka ketika
malaikat mematikan mereka seraya meremuk-redamkan muka mereka dan punggung
mereka? Yang demikian itu karena mereka mengikuti apa yang dimurkai Allah dan
membenci keridhaan-Nya. Lalu Allah hapuskan semua amalnya.” (Qs. Muhammad 47:
27-28). “Orang-orang yang dimatikan malaikat dalam keadaan berbuat dosa
(menzalimi diri mereka), maka mereka menyerah diri seraya berkata, “Kami tidak
melakukan perbuatan jahat.” (Malaikat menjawab), “Kamu justru melakukannya.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahuiapa yang kamu kerjakan. Maka masuklah
(kalian) kepintu-pintu neraka jahanam, kekal didalamnya.’ Sungguh sangat buruk
tempat orang-orang yang menyombongkan diri.” (Qs. An-Nahl 16 : 28-29).
Dari kisah diatas, kita
mengamati ada dua pemahaman yang saling bertolak belakang antara raja dan
bahlul. Maksud raja ialah jika seseorang mati ia tidak bisa membawa harta
kekuburan. Sementara bahlul memahami bahwa seseorang perlu bekal yaitu amal
perbuatan semasa hidupnya.
Mungkin bahlul tak
mengerti isyarat sang raja. Tapi sungguh bahlul benar belaka. Tak ada
perjalanan yang tak memerlukan bekal. Apalagi perjalanan menuju stasiun akhirat
yang kekal nan abadi.
Tahukah kita bekal apa
yang paling baik buat hari akhir nanti? Pada suatu hari Rasulullah SAW melewati
pekuburan. Beliau menyapa penghuni kubur, “Hai ahli kubur, tahukah kalian apa
yang terjadi sepeninggal kalian? Istri-istri kalian sudah dinikahi orang lain,
rumah-rumah kalian sudah dibagi-bagikan. Apakah kalian mau menceritakan apa
yang kalian alami?” KemudianRasulullah SAW bersabda, “Sekiranya mereka
bisa menjawab, mereka akan berkata bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar